Rabu, 29 Januari 2020

Shalat Istisqa’ (Minta Hujan),Adab dan Tata Cara Shalat Istisqa’


Seputar Shalat Istisqa’ 




Istisqa’. Secara harfiah, istisqa’ artinya minta hujan. Sebagai istilah Agama Islam, dengan istisqa’ dimaksudkan suatu ibadah tertentu yang berwujud doa-doa atau shalat untuk minta kepada Allah diturunkan hujan pada masa terjadinya kemarau dan musim kering yang panjang.

Dalam Putusan Tarjih (Muktamar Tarjih di Garut, 1976) dituntunkan, bahwa minta hujan itu dapat dilakukan secara perorangan atau berkelompok. Apabila berkelompok, maka diperlukan adanya imam dan dapat dilakukan dengan berdoa bersama saja, dengan dipimpin oleh imam atau dengan melakukan shalat. Apabila minta hujan itu dilakukan dengan berdoa saja, doa itu dapat dilakukan dalam khutbah Jum’at, atau di luar khutbah Jum’at, baik dalam masjid (di atas mimbar) maupun di luar masjid. Dan apabila dilakukan dengan shalat, hal itu dilaksanakan di lapangan, dengan khutbah sesudah shalat. Dan boleh juga khutbah dilakukan sebelum shalat. [Lihat, Putusan Tarjih, Berita Resmi Muhammadiyah, No. 76/1977, hal. 5 (teks Arab) dan hal. 22-23 (terjemahannya)]

Dalam kitab Subulus-Salam dinyatakan, bahwa berdasarkan berbagai hadits, terdapat enam cara Nabi saw melakukan minta hujan. Pertama, Nabi saw keluar ke lapangan melakukan shalat istisqa’ dengan khutbah. Kedua, Nabi saw berdoa minta hujan dalam khutbah Jum’at. Ketiga, Nabi saw berdoa minta hujan di atas mimbar di masjid Madinah di luar hari Jum’at, tanpa shalat. Keempat, Nabi saw minta hujan dengan berdoa, duduk di dalam masjid. Kelima, Nabi saw berdoa minta hujan di Ahjaruz-Zait, dekat az-Zaura’, di luar masjid. Dan keenam, Nabi saw minta hujan ketika di medan perang. (Subulus-Salam, II: 78).
Para ulama fiqih sepakat tentang adanya bermacam cara Nabi saw melakukan istisqa’ ini. Kecuali Imam Abu Hanifah, yang berpendapat tidak ada shalat istisqa’ berjamaah untuk minta hujan; yang disyari’atkan hanya doa untuk minta hujan saja. Dalam Kitab-­kitab Hanafi diriwayatkan, bahwa Abu Hanifah berkata: “Untuk istisqa’ (minta hujan) tidak ada shalat jamaah yang disunnahkan” (Fath al-Qadir, 11:91; al-Fatawa al-Hindiyyah, 1:153)
Alasan jumhur ulama yang menyatakan adanya (disyariat­kannya) shalat istisqa’ adalah adanya hadits-hadits Nabi saw yang menyatakan bahwa Nabi saw melakukan shalat istisqa’ dengan berjamaah dan tidak hanya dengan sekadar berdoa. Antara lain adalah hadits:

عَنْ عَبَّادِ بْنِ تَمِيمٍ عَنْ عَمِّهِ قَالَ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ يَسْتَسْقِي قَالَ فَحَوَّلَ إِلَي النَّاسِ ظَهْرَهُ وَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ يَدْعُو ثُمَّ حَوَّلَ رِدَاءَهُ ثُمَّ صَلَّى لَنَا رَكْعَتَيْنِ جَهَرَ فِيْهِمَا بِالْقِرَاءَةِ [رواه البخاري ورواه أيضا وأبو داود والنسائي وأحمد]
Artinya: “Dari Abbad Ibn Tamim, dari pamannya (yaitu Abdullah Ibn Zaid) yang mengatakan: “Saya melihat Nabi saw pada hari ia keluar minta hujan, beliau membelakangi orang banyak dan mengha­dap ke Kiblat sambil berdoa, kemudian membalik pakaian atasnya, kemudian shalat mengimami kami dua rakaat, dengan menyaringkan bacaan dalam keduanya.” [HR. al-Bukhari, dan diriwayatkan juga oleh Abu Daud, an-Nasa’i dan Ahmad]

Hadits lain yang menjadi dasar adanya shalat istisqa’ adalah:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ قَالَ خَرَجَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا يَسْتَسْقِي فَصَلَّى بِنَا رَكْعَتَيْنِ بِلَا أَذَانٍ وَلَا إِقَامَةٍ ثُمَّ خَطَبَنَا وَدَعَا اللَّهَ وَحَوَّلَ وَجْهَهُ نَحْوَ الْقِبْلَةِ رَافِعًا يَدَهُ ثُمَّ قَلَبَ رِدَاءَهُ فَجَعَلَ الْأَيْمَنَ عَلَى الْأَيْسَرِ وَالْأَيْسَرَ عَلَى الْأَيْمَنِ [رواه ابن ماجه وأحمد]

Artinya: “Dari Abu Hurairah ra (dilaporkan), bahwa dia berkata: Nabi saw pada suatu hari keluar untuk melakukan istisqa’, lalu ia shalat mengimami kami dua rakaat tanpa azan dan tanpa iqamat. Kemudian ia berkhutbah dan berdoa kepada Allah, seraya menghadapkan mukanya ke arah Kiblat, sambil mengangkat kedua tangannya, kemudian memutar jubabnya, sehingga ujung kanannya berada di sebelah kiri dan ujung kirinya berada di sebelah kanan.” [HR. Ibnu Majah dan Ahmad]

Dalam Putusan Tarjih, selain hadits-hadits di atas, dikutip pula hadits panjang dari ‘Aisyah untuk menjadi dasar disyariat­kannya shalat minta hujan ini, yaitu:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ شَكَا النَّاسُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُحُوطَ الْمَطَرِ فَأَمَرَ بِمِنْبَرٍ فَوُضِعَ لَهُ فِي الْمُصَلَّى وَوَعَدَ النَّاسَ يَوْمًا يَخْرُجُونَ فِيهِ قَالَتْ عَائِشَةُ فَخَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ بَدَا حَاجِبُ الشَّمْسِ فَقَعَدَ عَلَى الْمِنْبَرِ فَكَبَّرَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَحَمِدَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ ثُمَّ قَالَ إِنَّكُمْ شَكَوْتُمْ جَدْبَ دِيَارِكُمْ وَاسْتِئْخَارَ الْمَطَرِ عَنْ إِبَّانِ زَمَانِهِ عَنْكُمْ وَقَدْ أَمَرَكُمْ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ تَدْعُوهُ وَوَعَدَكُمْ أَنْ يَسْتَجِيبَ لَكُمْ ثُمَّ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ مَلِكِ يَوْمِ الدِّينِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ اللَّهُمَّ أَنْتَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الْغَنِيُّ وَنَحْنُ الْفُقَرَاءُ أَنْزِلْ عَلَيْنَا الْغَيْثَ وَاجْعَلْ مَا أَنْزَلْتَ لَنَا قُوَّةً وَبَلَاغًا إِلَى حِينٍ ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ فَلَمْ يَزَلْ فِي الرَّفْعِ حَتَّى بَدَا بَيَاضُ إِبِطَيْهِ ثُمَّ حَوَّلَ إِلَى النَّاسِ ظَهْرَهُ وَقَلَبَ أَوْ حَوَّلَ رِدَاءَهُ وَهُوَ رَافِعٌ يَدَيْهِ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ وَنَزَلَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ [رواه أبو داود]

Artinya: “Dari ‘Aisyah ra (dilaporkan bahwa) ia berkata: Or­ang-orang telah mengeluh kepada Nabi saw tentang terhentinya hujan, lalu beliau menyuruh mengambil mimbar. Maka, orang-­orang pun menaruhnya di lapangan tempat shalat, dan beliau menjanjikan hendak mengajak mereka pada suatu hari ke tempat itu. ‘Aisyah melanjutkan: Rasulullah saw lalu berangkat pada waktu telah nyata sinar matahari, lalu ia duduk di atas mimbar, lalu membaca takbir dan memuji Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Agung, kemudian beliau mengatakan: Kamu telah mengeluhkan kegersangan negerimu dan tertangguhnya hujan dari waktunya. Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kamu supaya bermohon kepada-Nya dan menjanjikan akan memperkenankan permohonanmu itu. Kemudian beliau berdoa: Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang menguasai hari pembalasan. Tiada Tuhan selain Allah, yang melaksanakan apa yang Dia kehendaki. Ya Allah, Engkaulah Allah yang tiada Tuhan selain Engkau, Yang Maha Kaya, sementara kami adalah miskin, turunkanlah hujan kepada kami dan jadikanlah apa yang Engkau turunkan itu kekuatan dan bekal bagi kami untuk waktu yang lama. Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya dan terus mengangkatnya, sehingga kelihatan ketiaknya yang putih. Kemudian ia membelakangi orang banyak dan membalikkan pakaian atasnya sambil terus mengangkat kedua tangannya, kemudian ia menghadap kembali kepada orang banyak dan turun dari mimbar lalu shalat dua rakaat.” [HR. Abu Daud, No. 1173]

Adapun alasan Abu Hanifah yang menyatakan bahwa tidak ada shalat untuk minta hujan adalah hadits-hadits yang menyebutkan Rasulullah saw minta hujan dengan berdoa tanpa shalat. Antara lain, seperti hadits:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَسْقَى فَأَشَارَ بِظَهْرِ كَفَّيْهِ إِلَى السَّمَاءِ [رواه مسلم وأبو داود وأحمد]
Artinya:  “Dari Anas Ibn Malik (dilaporkan) bahwa Nabi saw minta hujan seraya menadahkan kedua telapak tangannya ke langit.”

Beberapa ulama Hanafi menyanggah pendapat ini. az-Zaila’i (w. 762/1362) misalnya, menyatakan: “Bahwa Nabi saw melakukan istisqa’ (minta hujan) memang benar adanya. Akan tetapi bahwa ia minta hujan tanpa dengan shalat, ini tidak benar. Yang benar adalah bahwa beliau melakukan shalat untuk minta hujan itu.” (Nasb ar-Rayah, II: 238). Bahkan, kedua murid beliau, Abu Yusuf (w. 182/798) dan Muhammad (w. 189/805), tidak mengikuti pendapatnya, melainkan mengikuti pendapat jumhur ulama.

Sesungguhnya, hadits-hadits yang dikemukakan di atas tidaklah saling bertentangan, melainkan menggambarkan beberapa cara Rasulullah saw minta hujan; ada kalanya dengan hanya berdoa saja dan ada kalanya dengan shalat berjamaah.
Khutbah Istisqa’. Dalam Putusan Tarjih dituntunkan, bahwa khutbah istisqa’ dilakukan setelah shalat istisqa’ sesuai dengan hadits Abu Hurairah riwayat Ahmad di atas. Akan tetapi dapat juga dilakukan sebelum shalat, berdasarkan hadits ‘Aisyah riwayat Abu Daud di atas. Mengenai apakah khutbah istisqa’ satu atau dua kali, tidak ada penegasannya dalam Putusan Tarjih. Hanya saja, apabila kita perhatikan hadits-hadits mengenai khutbah istisqa’ tidak ada satupun yang menyebutkan khutbah istisqa’ dua kali. Ini berarti, khutbah istisqa’ itu hanya satu kali seperti khutbah dua hari raya. Bahkan bila kita amati hadits Abu Daud dari ‘Aisyah di atas, tidak ada penyebutan duduk antara dua khutbah, sehingga karena itu dapat dipahami, bahwa khutbah istisqa’ itu adalah satu kali. Bahkan beberapa fuqaha memahami hadits Abu Daud dan Ibnu Abbas di bawah ini sebagai menunjukkan bahwa khutbah istisqa’ adalah satu kali. Hadits dimaksud adalah:

خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَبَذِّلًا مُتَوَاضِعًا مُتَضَرِّعًا حَتَّى أَتَى الْمُصَلَّى زَادَ عُثْمَانُ فَرَقَى عَلَى الْمِنْبَرِ ثُمَّ اتَّفَقَا وَلَمْ يَخْطُبْ خُطَبَكُمْ هَذِهِ وَلَكِنْ لَمْ يَزَلْ فِي الدُّعَاءِ وَالتَّضَرُّعِ وَالتَّكْبِيرِ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَمَا يُصَلِّي فِي الْعِيدِ [رواه أبو داود والنسائى والترمذي]

Artinya:  “(Ibnu Abbas menceritakan) Rasulullah saw berjalan dengan pakaian lusuh, dan dengan hati pasrah dan khusyuk hingga sampai ke lapangan tempat shalat -‘Utsman Ibn Abi Syaibah, salah seorang perawi dalam hadits ini menambahkan. “lalu Rasulullah saw naik ke atas mimbar”, kemudian kata-kata ‘Utsman dan an-Nufaili sama lagi- dan beliau tidak berkhutbah seperti khutbah kamu ini, melainkan terus berdoa, khusyuk dan bertakbir, kemudian shalat dua rakaat seperti shalat dua hari raya.” [HR. Abu Daud, an-Nasa’i dan at-Tirmidzi]

Syamsuddin Ibnu Qudamah menyatakan: “Yang masyru’ adalah satu khutbah. Bagi kami, pernyataan Ibnu Abbad bahwa Nabi saw tidak berkhutbah seperti khutbah kamu ini menunjukkan bahwa beliau tidak mengantarai khutbahnya de­ngan diam atau duduk antara dua khutbah, sebab semua mereka yang melaporkan khutbah tidak menyerukan adanya dua khutbah” (Asy-Syarh al-Kabir, bersama al-Mugni, II:289].

Az-Zaila’i mengomentari hadits ini dengan mengatakan: “Maksudnya adalah bahwa beliau berkhutbah, akan tetapi khutbahnya tidak dua kali seperti pada khutbah Jum’at, tetapi berkhutbah satu kali ... dan tidak diriwayatkan bahwa beliau pernah berkhutbah dua kali” (Nasb ar-Rayah, II:242).
Adapun cara khutbahnya adalah seperti khutbah pada umumnya. Hanya saja, dengan memperbanyak ucapan istighfar dan doa.

Isi khutbah disampaikan dalam bahasa Indonesia. Arahnya mengajak jamaah untuk istighfar dan tobat kepada Allah atas segala dosa yang telah dilakukan. Kemudian, khutbah ditutup dengan doa-doa. Utamanya yang maksud dari Nabi saw. Ketika membaca doa menghadap ke Kiblat, dengan membelakangi jamaah. Doa-doa yang dibaca adalah permohonan ampun dari Allah, seperti dalam khutbah pada umumnya dan ditambah de­ngan doa-doa khusus minta hujan.

Adab dan Tata Cara Shalat Istisqa

Ada beberapa alternatif untuk memohon kepada Allah ta’ala agar menurunkan hujan. Ada 3 tingkatan yang dipaparkan oleh madzhab Syafi’iyah dan Malikiyah. Kita urutkan dari tingkatan yang paling rendah. Pertama, berdoa tanpa melakukan shalat, baik dilakukan berjamaah atau sendirian, boleh di dalam masjid atau di luarnya. Kedua, berdoa meminta hujan usai shalat jum’at atau setelah shalat-shalat lainnya. Di sini madzhab Hanabilah mengkhususkan hanya sehabis shalat jum’at saja. Ketiga, tingkatan tertinggi adalah memohon hujan dengan melakukan shalat dua rakaat dan dua khutbah. Dengan cara mengumpulkan seluruh penduduk negeri untuk bersama-sama melaksanakannya.

Selanjutnya, kapankah waktu dan tempat yang baik untuk melakukannya? Jumhur ulama membolehkan kapan saja waktunya, asalkan bukan pada waktu terlarang untuk shalat. Seperti, waktu setelah shalat subuh hingga terbit matahari dan setelah shalat asar hingga matahari terbenam. Madzhab Hanabilah berpendapat bahwa waktu yang tepat sama dengan pelaksanaan shalat ied. Ini sesuai dengan pendapat Imam Al Baghawi, Syaikh Abu Hamid Al Israfayaini, dan Abu ‘Ali as Sinji. Adapun tempatnya sudah sedikit disinggung di atas, yaitu boleh di dalam masjid atau di luarnya. Imam Syafi’i berpendapat tempatnya adalah di tanah yang luas semisal padang pasir. Ini karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu juga melakukannya di sana. Di samping itu karena dihadiri seluruh penduduk negeri, tentu saja membutuhkan tempat yang luas dan lapang.

Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan agar shalat ini memiliki nilai lebih. Selain itu juga mendorong supaya Allah ta’ala lebih memperhatikan kebutuhan sebuah negeri. Maka, sebelum pelaksanaan shalat istisqa’, imam shalat atau pemimpin negeri memerintahkan manusia untuk menjauhi kedzaliman, bertaubat dari maksiat, menunaikan hak-hak yang belum terlaksana. Hal ini karena maksiat adalah sebab dari kekeringan dan ketaatan adalah sebab dari barokah. Dengan meninggalkannya, lebih mudah dikabulkannya perminttan kita dari Allah ta’ala.

Di samping itu ada anjuran untuk melakukan puasa (shiyam) sebelumnya. Hal ini disepakati oleh para imam madzhab. Walaupun, dalam hal sifat shiyam mereka berbeda pendapat. Madzab Syafi’iyah, Hanafiyah, dan sebagian Malikiyah berpendapat 3 hari shiyam lalu keluar untuk melaksanakan shalat di hari keempat. Sedangkan madzhab Hanabilah berpendapat 3 hari shiyam dan shalat pada hari terakhir shiyam. Selain melakukan shiyam, tidak kalah penting juga adalah memperbanyak shadaqoh kepada yang berhak.

Adab-adab shalat Istisqa

Adab-adab yang terkait dengan shalat ini hendaknya juga diperhatikan. Yaitu bersuci dengan mandi dan bersiwak. Hal ini karena shalat yang terdapat khutbah dan berjamaah di dalamnya, maka disyariatkan mandi, sebagaimana pada shalat jumat. Disunnahkan juga untuk menanggalkan perhiasan dan barang-barang yang mewah, karena saat itu bukan waktu untuk berhias. Hendaknya memakai pakaian yang sederhana, tidak bau, dan menunjukkan kerendahan. Keluar dengan rasa tawadhu, khusyu’, menhinakan diri di hadapan Rabb, dan berjalan kaki kecuali ada udzur yang mendesak.

Perlu diketahui, ada 2 cara dalam melaksanakan shalat istisqa’. Pertama, sesuai dengan pendapat madzhab Syafi’iyah, Hanabilah. Juga diikuti oleh Muhammad bin Al Hasan dari Hanabilah, Said bin Musayyib, dan Umar bin Abdul Aziz. Caranya adalah melakukan shalat dua rakaat, rakaat pertama takbir sebanyak 7 kali, dan di rakaat kedua sebanyak 5 kali, sebagaimana shalat ied. Hal ini berdasar hadits dari Ibnu Abbas, “Sesungguhnya Nabi SAW melaksanakan shalat istisqa’ dua rakaat sebagaimana melaksanakan shalat ied.” (HR. Bukhari 1023, Muslim 894, dan An Nasa’i 1509).
Kedua, adalah pendapat dari madzhab Malikiyah. Di samping perkataan kedua dari Muhammad bin Al Hasan, al Auza’i, Abu Tsaur, dan Ishaq. Yaitu shalat 2 rakaat sebagaimana melaksanakan shalat sunnah seperti biasa dengan bacaan jahriyah (membaca Surat Al Fatihah dan surat-surat pendek dengan bacaan yang dikeraskan).

Doa-doa dalam shalat istisqa’ hendaknya juga perlu diketahui. Berdoa memang boleh dilakukan dengan lafadz dan bahasa apapun juga, asalkan dapat dimengerti maksud dan tujuannya. Namun alangkah lebih baik jika doa yang dihaturkan, selain maksud dan tujuannya tersampaikan, juga mengikuti tuntunan yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berikut ini doa-doanya:

اَللهُمَّ اجْعَلْهَا سُقْيَا رَحْمَةٍ، وَلاَ تَجْعَلْهَا سُقْيَا عَذَابٍ، وَلاَ مَحْقٍ وَلاَ بَلاَءٍ، وَلاَ هَدْمٍ وَلاَ غَرَقٍ، اَللهُمَّ عَلَى الظِّرَابِ وَاْلاَكَامِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ وَبُطُونِ اْلاَوْدِيَةِ، اَللهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلاَ عَلَيْنَا، اَللهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيْثًا، هَنِيْئًا مَرِيْئًا مَرِيْعًا، سَحًّا عَامًّا غَدَقًا طَبَقًا مُجَلَّلاً، دَائِمًا اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، اَللهُمَّ اسْقِنَا الْغَيْثَ وَلاَ تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطيْنَ، اَللهُمَّ اِنَّ بِالْعِبَادِ وَالْبِلاَدِ مِنَ الْجَهْدِ وَالْجُوْعِ وَالضَّنْكِ، مَالاَ نَشْكُو اِلاَّ اِلَيْكَ، اَللهُمَّ اَنْبِتْ لَنَاالزَّرْعَ وَاَدِرَّلَنَا الضَّرْعَ، وَاَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاءِ، وَاَنْبِتْ لَنَا مِنْ بَرَكَاتِ اْلاَرْضِ، وَاكْشِفْ عَنَّا مِنَ الْبَلاَءِ مَالاَ يَكْشِفُهُ غَيْرُكَ، اَ للهُمَّ اِنَّا نَسْتَغْفِرُكَ اِنَّكَ كُنْتَ غَفَّارَ، فَاَرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْنَا مِدْرَارًا
“Ya Allah, jadikanlah hujan ini siraman rahmat, dan janganlah ia Engkau jadikan siraman yang menyiksa, membinasakan, memberi bencana, menghancurkan maupun menenggelamkan. Ya Allah, turunkanlah hujan ini ke atas bukit-bukit dan gundukan-gundukan tanah, tempat-tempat tumbuhnya pohon dan perut-perut lembah. Ya Allah, turunkanlah hujan ini di sekitar kami, dan tidak membaha¬yakan kami. Ya Allah, siramlah kami dengan hujan yang menyelamatkan, yang mudah, nyaman lagi menyuburkan, yang lebat, banyak, merata dan menyeluruh, yang lestari sampai hari kiamat. Ya Allah, siramlah kami dengan hujan dan Janganlah Engkau jadikan kami tergolong orang-orang yang berputus asa. Ya Allah, sesungguhnya hamba-hamba-Mu dan negeri ini tengah di¬timpa kesusahan, kelaparan dan kesempitan, yang kami tak bisa mengadu selain kepada-Mu. Ya Allah, tumbuhkan tanaman untuk kami, kucurkan susu deras-deras untuk kami, turunkan kepada kami berkat-berkat dari langit, tumbuh¬kan untuk kami berkat-berkat dari bumi, dan hilangkan dari kami ben¬cana, yang tak bisa dihilangkan oleh selain Engkau. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon ampun kepada-Mu, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pengampun. Maka, kirimlah hujan kepada kami dengan deras.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari: 967, Muslim: 897, Abu Daud: 1169, dan asy-Syafi’i: al-Umm 1/222 dan lain-lainnya).

Ada juga riwayat dari Imam Syafi’i, hendaknya pada waktu itu berdoa dengan doa :

اللهم اسقنا الغيثَ وانصرنا على الأعداء. اللهم أنت أمرتنا بدعائك ووعدتنا إجابتك، وقد دعوناك كما أمرتنا فأجبنا كما وعدتنا، اللهم امنن علينا بمغفرة ما قارفنا، وإجابتك في سقيانا، وسعة رزقنا
“Ya Allah turunkanlah hujan dan tolonglah kami atas musuh. Ya Allah Engkau telah memerintahkan kami untuk berdoa, dan berjanji untuk mengabulkan. Dan kami telah berdoa sebagaimana engkau perintahkan, maka kabulkanlah sebagaimana Engkau telah janjikan. Ya Allah berikanlah anugerah ampunan-Mu atas kesalahan kami, dan kabulkan hujan untuk kami dan kelapangan rezeki.”

Selesai berdoa, imam kemudian menganjurkan untuk senantiasa melazimi ketaatan, bershalawat kepada Nabi Muhammad Shallahu ‘alaihi wa sallam, mendoakan kaum mukminin dan mukminat, lalu membaca beberapa ayat dari Al Qur’anul Karim dan tidak lupa untuk memperbanyak istighfar kepada Allah ta’ala.
Disunnahkan bagi imam untuk mengangkat tangan ketika berdoa. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Anas Radhiyallahu ‘anhu,”Nabi Shallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengangkat tangan ketika berdoa kecuali ketika meminta hujan.” Dan beliau ketika mengangkat tangan sampai terlihat kedua ketiaknya. Dan menurut hadits riwayat Anas yang lain: Rasulullah SAW mengangkat tangan, kemudian manusia juga mengikutinya.” Riwayat-riwayat yang menerangkan tentang mengangkat tangannya Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam ini terdapat lebih dari 30 hadits.

Ada satu amalan menarik dalam ibadah meminta hujan ini, yaitu tentang membalik ridah (selendang). Madzhab Syafi’iyah, Hanabilah, dan Malikiyah mensunnahkan membalik selendang bagi imam dan makmum sebagaimana contoh dari Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini dimaksudkan sebagai bentuk pengharapan kepada Allah ta’ala agar mengubah keadaan dari yang semula kering menjadi basah. Ini terkhusus bagi laki-laki. Muhammad bin Al Hasan, Ibnu Musayyib, Urwah, Ats Tsauri, dan Laits mengkhususkan perbuatan itu hanya untuk imam. Sedangkan Imam Abu Hanifah tidak menganggap hal ini sebagai sunnah, karena berdoa itu tidak harus dengan membalik selendang.

Madzhab Hanabilah, Malikiyah, dan juga pendapat dari Syafi’iyah, juga Aban bin Utsman, Umar bin Abdul Aziz, Hisyam bin Ishaq, Abu Bakar bin Muhammad bin Hazm mengatakan bahwa yang melakukan doa minta hujan hendaknya membalik selendang mereka. Yaitu dengan meletakkan dari posisi yang kanan ditaruh di kiri, kemudian yang kiri ditaruh di kanan. Dalilnya adalah periwayatan Abu Dawud dengan sanad dari Abdullah bin Zaid,”Bahwasanya Nabi Shallahu ‘alaihi wa sallam mengubah posisi selendangnya, yang berada di pundak sebelah kanan ditaruh di pundak sebelah kiri, sedangkan yang berada di pundak sebelah kiri ditaruh di pundak sebelah kanan.” Ini sama dengan hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah. Muhammad bin al Hasan dan madzhab Syafi’iyah mengatakan,”Jika selendang itu dipakai melingkar, maka sisi yang kanan ditaruh di kiri, begitu pula sebaliknya. Namun jika selendang dilipat, maka yang atas dibalik ke bawah, begitu juga sebaliknya.”
Terakhir, jikalau Allah ta’ala mengabulkan permohonan turunnya hujan dan berkenan atasnya, maka hendaknya bersyukur atas limpahan nikmatnya. Dan manakala hujan sudah turun, berdoa dengan doa:

اللّهُمَّ اجْعَلهُ صَيِّبَاً هَنِيئاً نافعاً. اللهم حوالينا ولا علينا.ويقولون: مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللهِ وَرَحْمَتِهِ
“Ya Allah jadikan hujan yang menyejahterakan dan bermanfaat. Ya Allah turunkan di sekeliling kami bukan adzab bagi kami. Dan jamaah mengucapkan, “Hujan turun dengan karunia dan rahmat Allah.


Keagungan dan Keutamaan Hari Jum’at


Disunnahkan baca surat Al Kahfi di Hari Jum'at

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah pernah bersabda. “Hari terbaik di mana matahari terbit di dalamnya ialah hari Jumat. Pada hari itu Adam Alaihis Salam diciptakan, dimasukkan ke surga, dikeluarkan daripadanya dan kiamat tidak terjadi kecuali di hari Jumat.” [Riwayat Muslim]
Rasulullah juga pernah bersabda, “Sesungguhnya hari yang paling utama bagi kalian adalah hari Jumat, maka perbanyaklah sholawat kepadaku di dalamnya, karena sholawat kalian akan ditunjukkan kepadaku, para sahabat berkata: ‘Bagaimana ditunjukkan kepadamu sedangkan engkau telah menjadi tanah?’ Nabi bersabda: ‘Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi.” (Shohih. HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, An-Nasa’i).

Keistimewaan lain hari Jumat adalah saat-saat dikabulkannya doa, yaitu saat-saat terakhir setelah shalat ashar (seperti yang dijelaskan dalam banyak hadits) atau di antara duduknya imam di atas mimbar saat berkhutbah Jumat sampai shalat selesai ditunaikan.
Amalan Mulia
Allah mengkhususkan hari Jumat ini hanya bagi kaum Muslimin dari seluruh kaum dari umat-umat terdahulu. Di dalamnya banyak rahasia dan keutamaan yang datangnya langsung dari Allah.
Beberapa rahasia keagungan dan keutamaan hari Jumat adalah sebagai berikut;
Pertama, Hari Keberkahan. 
Di mana di hari Jumat berkumpul kaum Muslimin di masjid-masjid untuk mengikuti shalat dan sebelumnya mendengarkan dua khutbah Jumat yang mengandung pengarahan dan pengajaran serta nasihat-nasihat yang ditujukan kepada kaum muslimin yang kesemuanya mengandung manfaat agama dan dunia. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah menyebut hari Jumat memiliki 33 keutamaan. Bahkan Imam as-Suyuthi menyebut ada 1001 keistimewaan.
Kedua, Hari Dikabulkannya Doa.
Di antara rahasia keutamaan hari Jumat lain adalah, di hari itu terdapat waktu-waktu dikabulkannya doa.
“Di hari Jumat itu terdapat satu waktu yang jika seorang Muslim melakukan shalat di dalamnya dan memohon sesuatu kepada Allah Ta’ala, niscaya permintaannya akan dikabulkan.’ Lalu beliau memberi isyarat dengan tangannya yang menunjukkan sedikitnya waktu itu.” [HR.Bukhari dan Muslim]
Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya pada hari Jumat terdapat waktu mustajab bila seorang hamba muslim melaksanakan shalat dan memohon sesuatu kepada Allah pada waktu itu, niscaya Allah akan mengabulkannya.” [Muttafaqun Alaih]
Ketiga, Hari Diperintahkannya Shalat Jumat. 
Rasulullah bersabda, “Hendaklah kaum-kaum itu berhenti dari meninggalkan shalat Jumat. Atau (jika tidak) Allah pasti akan mengunci hari mereka, kemudian mereka pasti menjadi orang-orang yang lalai.” [Muslim]. Dalam riwayat lain Rasulullah menyebutkan, “Shalat Jumat adalah hak yang diwajibkan kepada setiap Muslim kecuali empat orang; budak atau wanita, atau anak kecil, atau orang sakit.” [Abu Daud]
“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” [QS: Al-Jumu’ah:9]
“Barangsiapa yang bersuci dan mandi, kemudian bergegas dan mendengar khutbah dari awal, berjalan kaki tidak dengan berkendaraan, mendekat dengan imam, lalu mendengarkan khutbah dan tidak berbuat sia-sia, maka baginya bagi setiap langkah pahala satu tahun baik puasa dan shalatnya..”
Keempat, Hari Pembeda antara Islam dan Non-Muslim. 
Hari Jumat adalah hari istimewa bagi kaum Muslim. Selain itu diberikan Nabi untuk membedakan antara harinya orang Yahudi dan orang Nashrani.
Abu Hurairah meriwayatkan, Rasulullah bersabda: “Allah telah memalingkan orang-orang sebelum kita untuk menjadikan hari Jumat sebagai hari raya mereka, oleh karena itu hari raya orang Yahudi adalah hari Sabtu, dan hari raya orang Nasrani adalah hari Ahad, kemudian Allah memberikan bimbingan kepada kita untuk menjadikan hari Jumat sebagai hari raya, sehingga Allah menjadikan hari raya secara berurutan, yaitu hari Jumat, Sabtu, dan Ahad. Dan di hari kiamat mereka pun akan mengikuti kita seperti urutan tersebut, walaupun di dunia kita adalah penghuni yang terakhir, namun di hari kiamat nanti kita adalah urutan terdepan yang akan diputuskan perkaranya sebelum seluruh makhluk.” [HR. Muslim].
Kelima, Hari Allah menampakkan diri. 
Dalam sebuah riwayat disebutkan,Hari Jumat Allah menampakkan diri kepada hamba-hamba-Nya yang beriman di Surga. Dari Anas bin Malik dalam mengomentari ayat: “Dan Kami memiliki pertambahannya” (QS.50:35) mengatakan: “Allah menampakkan diri kepada mereka setiap hari Jumat.”
Masih banyak keistimewan hari Jumat. Di antaranya adalah; Dalam “al-Musnad” dari hadits Abu Lubabah bin Abdul Munzir, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, beliau bersabda:
“Penghulunya hari adalah hari Jumat, ia adalah hari yang paling utama di sisi Allah Subhanahu Wata’ala, lebih agung di sisi Allah Subhanahu Wata’ala dari pada hari Idul Fitri dan Idul Adha. Pada hari Jumat tersebut terdapat lima keistimewaan: Hari itu, bapak semua umat manusia, Nabi Adam ‘Alaihissalam diciptakan, diturunkan ke dunia, dan wafat. Hari kiamat tak akan terjadi kecuali hari Jum’at.
Karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sangat memuliakan hari ini, menghormatinya, dan mengkhususkannya untuk beribadah dibandingkan hari-hari lainnya.


Sumber :
hidayatullah.com

Senin, 09 Mei 2016

Saat Komputer Tidak Mau Booting


SalajangkiNews.  Permasalahan yang kerap dijumpai pada komputer adalah proses booting yang tidak sempurna atau prosesnya yang terhenti di tengah jalan. Selama permasalahan terletak pada sistem operasi Windows, maka instal ulang memang merupakan cara termudah. Tapi cara ini paling tidak disukai banyak orang karena prosesnya yang memakan waktu dan merepotkan. Sebelum melakukan hal tersebut atau sebelum kamu membawanya ke teknisi, lebih baik kamu mencoba beberapa cara yang PCPlus tunjukkan.

Safe Mode

Kamu bisa mencoba melakukan booting melalui Safe Mode. Untuk menampilkan Safe Mode, bagi pengguna Windows 7, kamu mesti restart kembali PC, dan secepatnya tekan tombol F8. Nantinya akan tampilan pilihan menu yang salah satunya akan menampilkan pilihan Safe Mode. Jika cara ini bisa membuat kamu masuk ke Windows, berarti permasalahan terletak pada driver atau aplikasi yang membuat crash atau bisa pula terjangkit virus.



Namun bagi pengguna Windows 8.x, caranya agak berbeda. Untuk masuk ke Safe Mode, kamu bisa mengikuti cara dari tautan berikut.

Bantuan CD/DVD

Jika Safe Mode tetap tidak bisa memecahkan masalah (bagi pengguna Windows 7), kamu bisa mencoba menggunakan bantuan CD/DVD installer Windows. Kamu bisa melakukan booting dari sini dan melakukan repair Windows.

Jika menemukan pesan tertulis “bootmgr is missing”, kamu bisa masuk ke command prompt dan ketik bootrec /fixboot, lalu restart kembali.


Booting dari Linux

Jika cara nomor dua masih belum memecahkan masalah, cobalah menggunakan bantuan CD Linux seperti Ubuntu atau Linux Mint (bisa juga menggunakan distro Linux yang lain). Lakukan booting dari sini dan lihat apakah sistem tersebut bisa bekerja dengan baik. Jika berhasil masuk ke dalam sistem operasi Linux dengan lancar, berarti permasalahan terdapat pada Windows kamu, dan instal ulang merupakan solusi yang mesti dilakukan. Jika pada Linux masih terdapat masalah, berarti permasalahan terdapat pada hardware.

Sumber :
http://www.pcplus.co.id/2015/04/tutorial/saat-komputer-tidak-mau-booting/

Cara Melacak Keberadaan Smartphone Android dari Perangkat Lain



SalajangkiNews.  Kehilangan ponsel tentu saja sangat menyebalkan. Dan bagi kamu yang memiliki banyak data penting dan berharga, kehilangan tersebut terasa makin menyesakkan. Selain nantinya mesti mengumpulkan kembali data tersebut, kekuatiran akan data yang dimanfaatkan secara tidak bertanggungjawab merupakan hal lain yang bisa membuat makin pusing.

Namun kecanggihan ponsel serta sistem operasi terbaru saat ini memang memberikan sedikit harapan akan petunjuk mengenai keberadaannya. Meski dibutuhkan beberapa syarat untuk menemukannya, paling tidak kamu masih memiliki cara yang bisa dicoba. Selain memantau keberadaan ponsel, ada lagi feature yang memungkinkan untuk menghapus atau mengunci data secara remote guna menghindari kemungkinan penyalah gunaan data. Berikut beberapa hal yang mesti dipersiapkan serta langkah-langkah yang mesti dilakukan:

Persiapan di ponsel Android


Sebelum kehilangan ponsel (semoga hal ini tidak terjadi), kamu mesti mempersiapkan terlebih dahulu konfigurasi yang suatu saat bisa berguna jika hal buruk tersebut terjadi.


  • Aktifkan akun Google di ponsel tersebut
  • Aktifkan fungsi lokasi atau GPS
  • Aktifkan koneksi internet (bisa menggunakan data ataupun Wi-Fi)
  • Pada Google Settings, masuk ke Security, dan aktifkan semua feature dengan memberi tanda centang.
  • Deteksi keberadaan dari Ponsel Android lain


Untuk memantau keberadaannya dari ponsel lain, lakukan hal berikut:

Pasang aplikasi Android Device Manager bikinan Google yang bisa didapat dari Google Play Store.
Klik Accept pada tiap aggrement yang ditampilkan pada awal konfigurasi.
Login menggunakan akun Google yang sama dengan Android yang hendak dipantau tadi.



  • Jika pernah mengaktifkan beberapa ponsel menggunakan akun Google, maka sebelumnya kamu mesti memilih terlebih dahulu ponsel yang akan dipantau. Tekan daftar ponsel tersebut.
  • Jika benar, maka aplikasi akan langsung mendeteksi keberadaannya dengan menampilkan lokasi melalui peta.
  • Selain itu, ada tiga feature yang bisa dimanfaatkan yaitu Ring, Lock, dan Erase. Feature Ring akan mengirim suara dering ke ponsel tersebut sehingga kamu bisa mudah menemukannya jika terselip atau tidak diketahui keberadaannya.
  • Feature Lock akan mengunci ponsel yang bersangkutan sehingga orang lain tidak bisa membukanya selama tidak mengetahui kata kunci yang kamu gunakan.
  • Feature Erase bisa digunakan jika tidak ingin data yang tersimpan digunakan oleh orang lain.


Deteksi dari peramban desktop 

Jika menggunakan komputer, bisa pula memantau keberadaan ponsel Android dari peramban.


  • Akses ke alamat https://www.google.com/android/devicemanager.
  • Login menggunakan akun Google yang sama dengan ponsel Android.
  • Pilih jenis ponsel yang dimaksud, otomatis aplikasi akan mengontal keberadaan ponsel tersebut.
  • Jika berhasil akan ditampilkan alamat lokasi keberadaannya serta feature Rong, Lock, dan Erase yang bisa kamu manfaatkan sesuai keinginan.


Pantau dari Windows Phone 

Ternyata memantau keberadaan ponsel Android juga bisa dilakukan dari ponsel berbasis Windows Phone. Untuk itu, berikut beberapa hal yang mesti dilakukan:



  • Pasang aplikasi Find My Android Phone yang bisa didapat dari Store.
  • Jalankan aplikasi tersebut dan login menggunakan akun Google yang sama dengan perangkat Android yang hendak kamu deteksi keberadaannya.
  • Nantinya akan mendapatkan pesan dari Google melalui email yang menyatakan bahwa akun Google Mail kamu sedang diakses melalui perangkat lain (Windows Phone). Abaikan saja pesan ini.
  • Kembali ke aplikasi, pilih dan tekan daftar ponsel dimaksud dan selanjutnya aplikasi akan mendeteksi keberadaannya. Jika berhasil, akan ditampilkan informasi lengkap lokasi dimana ponsel tersebut berada.
  • Seperti feature yang ada pada Android Device Manager, kamu juga bisa memanfaatkan feature Ring, Lock, dan Erase.

Sumber :
http://www.pcplus.co.id/2015/07/tutorial/lacak-keberadaan-smartphone-android-dari-perangkat-lain/

Cara Pakai Task view dan Virtual Desktops di Windows 10



SalajangkiNews.  Salah satu fitur Windows 10 yang menyenangkan, khususnya bagi power user, adalah kemampuan untuk meluncurkan virtual-virtual desktop secara terpisah. Pengguna Mac dan Linux memang sudah bisa melakukan sejak lama, tapi Microsoft tidak pernah memberikannya sebagai fungsi inti di OS-nya sebelum Windows 10 hadir.

Bukan berarti Microsoft tidak pernah mendukungnya ya. Cuma Microsoft tidak memberikannya sebagai fasilitas standar di OS-nya. Jika kamu pakai Windows 7 atau 8 dan mau bereksperimen dengan solusi Microsoft, ada Desktops 2.0 dari Sysinternals.

O ya, kita samakan dulu persepsi tentang Virtual Desktop. Sebab di produk yang berbeda, artinya beda. Virtual desktop tidak sama dengan desktop virtualization. Yang disebut belakangan merujuk pada cara menjalankan sistem operasi yang terpisah di atas OS yang sudah ada (beginilah cara meng-instal Windows 10 di virtual machine). VMware dan Oracle sama-sama punya software VM yang dirancang untuk jalan secara lokal atau remote. Request oleh virtualized OS dicegat oleh sebuah application software layer yang disebut hypervisor, yang akan meneruskan request ke host operating system, yang kemudian berinteraksi dengan hardware platform.

Virtual desktop di sini adalah cara memperluas workspace komputer pengguna di luar apa yang biasanya diperlihatkan di layar kapan saja. Jadi alih-alih punya satu workspace dengan satu taskbar dan ikon-ikon dari program yang beroperasi, kamu bisa punya banyak jendela desktop, masing-masing dengan software yang sedang terbuka sendiri-sendiri. Teorinya, kamu bisa punya satu desktop yang terbuka dan memperlihatkan proses rendering 3D, sementara desktop lainnya dikhususkan untuk tutorial dan pencarian pada rendering 3D, dan desktop ketiga menampilkan jendela instant messaging dan e-mail yang disembunyikan.

Ada dua cara menggunakan mode ini di Windows 10. Pertama, klik pada ikon Task View di task bar (lihat gambar di bawah yang diwarnai merah). Atau tekan tombol Win-Tab berbarengan. Salah satu cara ini akan membuka Task Viewer.

Task View

Begitu Task Viewer terbuka, kamu punya beberapa pilihan. Kalau di gambar di atas, cuma ada satu desktop yang terbuka dan semua aplikasi yang sedang berjalan di desktop ditampilkan pada kisi-kisi di bagian tengah layar. Setiap jendela dilabeli di bagian atas dan bisa diklik untuk berpindah ke aplikasi tersebut. Kamu bisa menggunakan Task Viewer untuk menggandakan fungsi Alt-Tab jika mau. Namun Alt-Tab akan lebih cepat jika kamu hanya punya beberapa jendela terbuka dan tahu persis aplikasi mana yang kamu butuhkan, atau jika kamu berpindah di antara dua aplikasi. Tombol New Desktop di dasar kanan menciptakan desktop baru tanpa ada aplikasi yang terbuka.

Pindah jendela desktop dari #1 ke #2

Kamu bisa saja memindahkan jendela yang terbuka pada satu desktop ke desktop lain. Tindakan memindahkan jendela ini juga bisa dipakai untuk membuat desktop baru. Maksudnya, kamu tidak perlu membuat instance baru sebelum pindah jendela. Aplikasi-aplikasi yang terbuka di sejumlah desktop punya garis biru di bawah pada semua desktop lainnya, jadi dengan sekilas pandang kamu bisa tahu apakah ada dua instances untuk satu program yang sama berjalan di tempat lain dalam satu sistem. Memilih untuk menutup semua instances pada satu aplikasi hanya akan mempengaruhi desktop yang sedang kamu pakai.

O ya, camkan bahwa virtual desktop tidaklah benar-benar instances yang independen dari desktop Windows. Kamu tidak bisa mengkustomisasi tataletak ikon atau membuat aplikasi-aplikasi yang berbeda di-pin di taskbar. Jika mau cepat-berpindah di antara desktop. tekanlah Ctrl+Win+panah L/R untuk berpindah di antara desktop yang telah kamu atur. Jika punya lebih dari tiga, ini mungkin lebih cepat dibandingkan memakai Task View.

Virtual desktop Windows 10 merupakan solusi yang jauh lebih baik dibandingkan apa yang ditawarkan Microsoft pada Windows 8. Teorinya, kemampuan untuk mem-pin aplikasi-aplikasi Metro dan app Desktop berdampingan adalah cara bagus untuk mengenalkan orang ke UI baru. Namun konsep ini tidak berhasil karena penggunaan Alt-Tab untuk berpindah fokus jendala akan mengacaukan tataletak Metro/desktop yang sudah kamu buat secara hati-hati. Memang ada tombol perintah alternatif, tapi kalau kamu terbiasa pakai Alt-Tab selama bertahun-tahun, agak sulit untuk memakai cara tersebut.

Virtual desktop memperbaikinya dengan membuat Alt-Tab terkurung di dalam setiap jendela desktop, tetapi memberikan pengguna perintah serupa yang mudah dipakai untuk membuka sesi-sesi yang benar-benar baru yang dikhususkan untuk set aplikasi yang berbeda. Perbedaan besar antara Windows 8 dan Windows 10 di sini adalah kalau kamu keliru menekan Alt-Tab, maka tidak ada (tataletak) yang jadi rusak.

Sumber :
http://www.pcplus.co.id/2015/08/tutorial/cara-pakai-task-view-dan-virtual-desktops-di-windows-10/

Keunggulan Teknologi Windows 8 untuk Smartphone



SalajangkiNews.  Teknologi saat ini benar-benar luar biasa dan hal in bisa Anda lihat pada Sistem Operasi dari Microsoft terbaru yang dikenal dengan Windows 8. Jika dulu Anda mengenal Windows 7 maka saatnya Anda mengunakan Windows 8 untuk menjalankan semua aplikasi   pada laptop atau notebook Anda. OS terbaru yang dikeluarkan oleh Microsoft sejak tanggal 26 Oktober 2012 lalu memang jauh lebih unggul dibandingkan OS sebelumnya. Windows 8 dianggap jauh lebih baik untuk pengembangan bisnis sehingga banyak pihak yang menyukai OS ini. Pada windows tersedia Windows Store dan dengan adanya Windows store tersebut maka pengontrolan aplikasi oleh Developer akan sangat mudah dilakukan.

Windows 8 ini sangat nyaman dan bermafaat digunakan untuk pengguna smartphone, tablet maupun dekstop. Windows 8 yang diluncurkan tahun lalu memiliki 3 versi dan versi-versi tersebut sangat mendukung pengoperasian berbagai hal yang dibutuhkan orang saat ini. Versi Windows 8   tersebut diantaranya adalah Windows 8, Windows 8 Pro dan Windows 8 RT.   Banyak anggapan bahwa dengan keluarnya sistem operasi baru dari Microsoft ini maka semua hal bisa lebih menguntungkan, namun bukan berarti Windows 8 memiliki keunggulan, OS ini pun sebenarnya juga memiliki beberapa kekurangan dibandingkan dengan OS sebelumnya.

Berikut   beberapa keunggulan Windows 8.

Tampilan

Dari segi tampilan memang keunggulan Windows 8 cukup terlihat, tampilan OS terbaru dari Microsoft ini sangat dinamis. Windows 8 dilengkapi dengan   fitur notifikasi yang cukup lengkap sehinga pengguna bisa mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Fitur yang paling nyaman digunakan dan banyak dibutuhkan dari Windows versi terbaru ini adalah email. Pengguna windows 8 juga dengan mudah bisa terhubung pada berbagai situs penyedia data yang dimilikinya. Tampilan yang dimiliki oleh Windows 8 ini juga lebih segar dan tentunya OS terbaru dari Microsoft ini   dibuat dengan desain menu yang sangat cantik sehingga akses aplikasi jauh lebih mudah.

Keamanan lebih baik

Dibandingkan Windows 7 maka keamanan yang dimiliki oleh Wndows 8 jauh lebih baik. Saat   booting pada OS Microsoft ini maka Windows 8 sudah dilengkapi dengan booting secure agar PC terhindar dari malware.

Mudahnya mendapatkan aplikasi pendukung

Jangan khawatir soal aplikasi pendukung   Windows 8, keunggulan Windows 8 adalah dengan memberikan kemudahkan bagi pengguna untuk mendapatkan aplikasi pendukung pada OS tersebut.   Banyak pilihan aplikasi untuk OS terbaru dari Microsoft ini yang bisa digunakan untuk mendukung kinerja OS tersebut.

Optimalisasi layar sentuh

Windows 8 desainnya dioptimalkan untuk touchscreen pada komputer, laptop ataupun gadget lainnya yang mendukung OS ini. Keunggulan Windows 8 tersebut membuat   kinerja gadget dengan layar sentuh semakin nyaman. Pengguna gadget berlayar sentuh akan semakin nyaman dengan OS terbaru dari Microsof ini.

Sumber :
http://www.tabloidteknologi.com/keunggulan-teknologi-windows-8-untuk-smartphone/