SalajangkiNews.
مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَاد فِيهِ إِلاَّ مَلَكَانَ يَنْزِلاَنِ، فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا؛ وَيَقُولُ الآخَرُ: اللَّهُمَّ أعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا
“Di setiap pagi, ada dua malaikat yang turun (ke bumi), salah satunya berdo’a: Ya Allah, berikan ganti bagi siapa saja yang berinfak. Sedangkan yang satunya lagi berdo’a: Ya Allah, timpakan kerugian bagi orang-orang yang kikir.” (H.R. Bukhari)
Mungkin ada yang merasa, judul di atas terlalu berlebihan. Tapi, saya tidak sedang mengajak pembaca untuk melanggar larangan Allah swt yang tercantum dalam Surat Al-Mudatsir ayat 6:
وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ
“Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.”
Lewat tulisan in ini, saya ingin meruntuhkan anggapan penganut materialisme bahwa bersedekah dapat menyebabkan orang miskin. Bahkan, membuat orang jadi bangkrut. Karena menurut mereka, sedekah sangat merugikan.
Wajar saja orang-orang materialis berpikir demikian, otak mereka selalu melogikakan rizki dengan matematika. Bagi mereka, untung rugi selalu diukur dengan dunia. Berkurangnya harta adalah kerugian, bertambahnya adalah keuntungan.
Kaum materialis memiliki prinsip, semakin hemat pengeluaran, semakin besar peluang menjadi kaya. Jika anda rajin menabung dan hemat dalam pengeluaran. Tidak selamanya prinsip tersebut salah. Namun menjadi keliru ketika hal itu diterapkan dalam urusan rizki.
Seringkali para da’i materialisme mendoktrin; kaya-miskin, untung-rugi dan sukses-gagal, adalah murni karena usaha manusia. Tidak ada campur tangan Allah dalam kaya atau miskinnya seseorang. Semuanya karena kemampuan manusia. Persis pernyataan Qarun:
قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي
“Qarun berkata: ‘Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.’” (al-Qashash:78)
Sebaliknya, sudut pandang seorang mukmin berbeda dengan materialis. Mukmin berkeyakinan bahwa rizki adalah urusan Allah swt. Dialah yang menentukan jatah rizki seluruh makhluk.
“Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rizkinya sendiri. Allah-lah yang memberi rizki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Ankabut: 60)
Mukmin juga meyakini, bersedekah adalah salah satu jalan rizki. Allah swt dalam hadits qudsi berfirman:
أَنْفِقْ يَا ابْنَ آدَمَ أُنْفِقْ عَلَيْكَ
“Wahai anak Adam, berinfaklah, niscaya Aku akan berinfak untukmu.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Berlipat Enam
Syaikh Khalid Ar-Rib’iy menceritakan sebuah kisah dalam bukunya, Min ‘Aja’ibis Shadaqah. Ada seorang ibu rumah tangga yang hidup sederhana. Ketika musim dingin, ia memiliki uang lima ratus reyal. Uang itu hendak dia belikan pakaian musim dingin untuk anak-anaknya. Beberapa hari sebelum ke pasar, ia menghadiri walimah seorang kenalannya. Di sana ia mendengar cerita tentang tiga keluarga yang sangat miskin.
Sepulangnya dari walimah, cerita tadi disampaikan kepada suaminya. Lalu ia mengusulkan, uang lima ratus reyal itu disedekahkan kepada tiga keluarga miskin tersebut. Dengan senang hati sang suami setuju, bahkan memuji kedermawanan istrinya. Uang itupun dibelikan makanan pokok dan beberapa kebutuhan rumah tangga untuk tiga keluarga miskin tadi.
Beberapa hari kemudian, wanita tadi mendapat hadiah uang dari salah seorang kerabatnya. Jumlahnya enam kali lipat dari yang ia sedekahkan, yaitu tiga ribu reyal.
Subhanallah, Maha Benar Allah dalam firman-Nya,
مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ وَلَهُ أَجْرٌ كَرِيمٌ
“Barang siapa mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak.” (Q.S. Al-Hadid: 11)
Ketika ayat ini turun, seorang sahabat Anshor bernama Abu Dahdah bertanya kepada Rasulullah saw, “Ya Rasulullah, apakah Allah menginginkan pinjaman dari kami?” Beliau menjawab, “Ya, wahai Abu Dahdah.” Kemudian Abu Dahdah meminta, “Ulurkan tanganmu wahai Rasulullah!” Rasulullah saw mengulurkan tangannya, lalu Abu Dahdah menjabat tangan beliau seraya berkata, “Wahai Rasulullah, saksikanlah, sesungguhnya kebunku aku pinjamkan kepada Allah swt.”
Padahal, di kebun Abu Dahdah ada 600 pohon kurma dan di sanalah tempat tinggal keluarganya. Setelah itu, Abu Dahdah ra datang ke kebunnya dan memanggil istrinya. “Wahai Ummu Dahdah, tinggalkanlah kebun ini karena ia bukan milik kita lagi dan telah kupinjamkan kepada Allah swt.”
“Sungguh pinjaman yang menguntungkan bagimu, wahai Abu Dahdah,” sambut istrinya. Kedua suami istri itu dan anak-anak mereka pun pindah dari kebun tersebut. Sungguh mengagumkan semangat bersedekah sahabat Rasulullah.
Diganti Seribu Reyal
Masih dalam kitab Min ‘Aja’ibis Shadaqah, Syaikh Ar-Rib’iy mengisahkan kedermawanan seorang pelajar. Saat ia sedang berjalan menuju sekolahnya, ia berpapasan dengan seorang laki-laki yang memintanya berhenti. Ternyata laki-laki tadi mengeluhkan masalah keluarga dan kemiskinan yang menderanya.
Dengan memelas, laki-laki tadi berkata, “Saya mengharapkan kemurahan hati Anda.” Sang pelajar tadi merogoh sakunya, di dalamnya ada beberapa reyal. Namun ia ragu memberikannya kepada laki-laki tadi. Hanya itulah uang yang ia miliki untuk hidup sampai akhir bulan. Namun kemurahan hati mengalahkan keraguannya. Ia pun memberikan uangnya dengan senang hati.
Setibanya di sekolah, ia masuk ke ruang administrasi, barangkali ada surat untuk dirinya. Tiba-tiba seorang karyawan sekolah memanggilnya dan bertanya, “Kamukah yang bernama fulan?” Anak muda tadi mengiyakan. Karyawan tadi bertanya lagi, “Apakah tahun lalu Engkau mendapatkan nilai mumtaz (istimewa)?” Ia menjawab “Ya, betul.” Sang karyawan kemudian memberitahukan kabar gembira, “Kalau begitu Engkau berhak mendapatkan seribu reyal. Ikutlah aku untuk mengambilnya!” Bersedekahlah, Anda akan kaya!
Jadi tunggu apalagi saudaraku yang beriman, mari memperbanyak berinfak dan bersedakah di jalan Allah dan hanya berpegang teguh kepada Janji Allah SWT, untuk kehidupan Dunia dan Akhirat yang lebih baik.
Sumber :
Muhammad Sakir Dg Gau'
https://www.an-najah.net/2012/05/21/bersedekahlah-anda-akan-kaya/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.