Minggu, 08 Mei 2016

Keshalehan Bathin; Dia Selalu Mengawasiku


SalajangkiNews. Di malam gelap gulita, Umar bin Khattab RA dan pembantunya bernama Aslam berjalan mengelilingi Madinah. Dari satu gang ke gang yang lain. Beliau lakukan untuk mengetahui langsung keadaan rakyatnya. Itulah salah satu kebiasaan Khalifah Umar al-Faruq.

Saat melewati sebuah rumah tua, terdengar percakapan di dalamnya. “Wahai putriku, campurkan air ke dalam susu itu,” terdengar suara seorang ibu memerintah. Mereka pedagang susu di Madinah. “Wahai bunda, tidakkah bunda tahu aturan yang ditetapkan oleh Amirul Mukminin Umar bin Khattab?” Jawab sang putri. Dengan nada heran ibunya bertanya, “Aturan apakah itu?”.

Putrinya menjawab, “Amirul mukminin telah mengumumkan larangan mencampur susu dengan air.”  Sang ibu berkata, “Wahai putriku, campurkanlah susu dengan air. Umar dan pembantunya tidak akan mengetahui hal ini.” Dengan halus, sang putri menolak, “Wahai bunda, tidak pantas aku mentaati Amirul Mukminin dihadapannya, lalu aku mendurhakainya di belakangnya. Tidak. Tidak akan aku lakukan.”

Dalam versi lain disebutkan, sang gadis ini menolak permintaan ibunya seraya berkata, “Wahai bunda, jika Amirul Mukminin tidak melihat kita, maka Rabb-nya Amirul mukminin pasti menyaksikan ini semua.”

Dialog ini didengar seksama oleh Umar bin Khattab ra. Keesokan harinya, Umar meminta Aslam menyelidiki gadis tersebut; apa pekerjaannya, dan sudah bersuamikah dia. Beberapa saat kemudian, Aslam datang melapor, “Wahai Amirul Mukminin, dia seorang penjual susu, ia masih gadis, belum memiliki suami.”

Setelah mendengar laporan Aslam ini, Umar bin Khattab ra mengumpulkan seluruh putranya. Beliau berkata, “Wahai putra-putraku, aku menemukan seorang gadis, adakah diantara kalian yang ingin menikahinya? Sungguh andaikan aku masih berhasrat kepada wanita, tentu aku sendiri yang akan menikahi gadis ini.”

Abdullah berkata, “Saya telah memiliki istri, Ayahanda.” Abdurrahman pun menjawab sama. Adapun ‘Ashim, ia berkata, “Wahai Ayahanda, saya belum beristri, nikahkan gadis itu dengan saya.” Akhirnya ‘Ashim bin Umar menikahi gadis penjual susu tersebut. Lalu ia melahirkan seorang putri, dan di kemudian hari putri ini menjadi ibu Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Seorang khalifah yang sangat adil, bijak, shaleh dan tegas.

Luar biasa, keshalehan yang langka dari seorang gadis muslimah. Ia tidak sekedar berbusana muslimah. Tidak hanya tampak cantik berbalut busana muslimah yang rapi dan panjang, namun juga memiliki innerbeauty. Keshalehan bathin.

Muraqabah, Sumber Keshalehan Bathin

Kesadarannya akan pengawasan Allah swt sangat mendalam. Dia tidak hanya malu berbuat maksiat tatkala bersama manusia atau disaksikan oleh manusia, namun dalam kesendirian ia pun takut berbuat maksiat kepada Allah. Karena ia menyadari, Allah selalu mengawasinya.

Kesadarannya akan pengawasan Allah swt kepada dirinya menjadi tembok penghalang antara ia dan kemaksiatan. Dalam ilmu suluk kesadaran ini disebut muroqabah.  Imam Ibnul Qayyim rhm berkata, “Muroqabah adalah kesadaran dan keyakinan seorang hamba yang kontinyu bahwa Allah swt selalu mengawasi dan mengetahui keadaan lahir dan bathinnya.”

Muroqabah salah satu intisari ibadah hati. Bahkan muroqobah adalah ibadah yang memiliki puncak ketinggian yang luar biasa. Pelakunya telah akan menggapai derajat Ihsan. Sebagaimana jawaban Rasulullah saw saat ditanya oleh malaikat Jibril tentang Ihsan, “Yaitu engkau beribadah kepada Allah swt, seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak menyadari pengawasan-Nya, maka ketahuilah Allah swt selalu melihatmu.” Hadits shahih yang diriwayatkan oleh imam Bukhari dan Muslim ini menjelaskan, seseorang yang berhasil dalam muroqabah, berarti ia telah menggapai iman yang sangat tinggi, yaitu maqom ihsan.

Allah menegaskan bahwa Ia swt selalu mengawasi hamba-Nya,

وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ

“Ketahuilah, sesungguhnya Allah swt mengetahui apa yang ada pada diri kalian. Maka berhati-hatilah.” (al-Baqarah: 235)

Para ulama salaf seringkali saling berwasiat untuk meningkatkan kualitas muroqabah kepada Allah swt. Suatu ketika Abdullah bin Mubarok rhm berwasiat kepada salah seorang muridnya, “Hadirkan selalu rasa muroqabah kepada Allah swt.” Muridnya bertanya, “Apa maksud muroqabah, wahai syaikh?” Ibnu Mubarok berkata, “Sadarilah, bahwa Allah selalu mengawasimu selama-lamanya. Dimana dan kapanpun kamu berada.”

Tidak Sesaleh Lahirnya

Suatu hari, terjadi percakapan hangat –kalo tidak boleh dikatakan mesra- antar dua orang muda-mudi aktifis atau mungkin alumni salah satu pondok pesantren: “Dimana acaranya akhi?” Tanya seorang akhwat di seberang telepon sana. “Di tempat A, ukhti?” Jawab seorang anak muda aktifis kampus, memberitahukan tempat kajian berlangsung. “Pembicaranya, ustadz siapa saja, akhi?” Tanya akhwat itu lagi. “Ustadz Fulan ukhti.” Dengan sergap sang ikhwan menjawab, “Alumni unifersitas B dan murid Syaikh Fulan.” Ia melengkapi keterangannya. “Jazakallah khairan atas infonya. InsyaAllah ana datang.” Kata akhwat memastikan kehadirannya. “Amin waiyyak. Ana juga hadir InsyaAllah.” Balas ikhwan itu mengkonfirmasikan kehadirannya juga.

Bisa jadi kisah di atas dianggap fiksi. Namun dalam dunia pergaulan remaja-remaji Islam, atau lebih umumnya interaksi ikhwan-akhwat, baik yang sudah zawaj, apalagi yang masih ‘azib –bujang-, tamtsil dalam cerita di atas acap kali terjadi.

Ada banyak modus yang dipakai. Bisa kajian, sms nasehat atau hanya sekedar bertanya, ‘kaifa haluk’. Bisa via telepon, sms, BB, WhatsApp, Facebook dan sejenisnya. Semua aktifis sepakat, bahwa gejala ini tidak dibenarkan dalam Islam.

Kalaupun masih ragu-ragu, apakah ini termasuk dosa apa bukan, sebenarnya standar penilaian dalam Islam cukup sederhana. Rasulullah saw bersabda,

اَلإِثْمُ مَا حَاكَ فِيْ نَفْسِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ

“Dosa adalah sesuatu yang membuat jiwamu tidak tenang (ragu-ragu) dan -jika kamu melakukannya-, kamu tidak suka diketahui orang lain.” (HR. Muslim)

Standar dosa atau tidaknya sebuah amalan yang masih samar-samar itu ada dua; (1) Jiwa tidak tentram saat melakukannya, atau (2) tidak suka diketahui oleh orang lain, terutama orang shaleh. Sangat simple.

Hanya saja, sebab utama pelanggaran terhadap syari’at Islam, terutama oleh para aktifis, bukan karena ia bodoh terhadap dalil, atau terbawa lingkungan, tapi berawal dari lemahnya muroqabah. Atau sama sekali kehilangan muroqabah.

Dzun Nuun, berkata, “Tanda adanya muroqabah –pada seseorang- adalah dia lebih mengedepankan apa yang diwahyukan oleh Allah, dia mengagungkan apa yang diagungkan Allah swt dan menganggap rendah apa yang direndahkan oleh Allah swt.”

Muraqabah adalah ibadah hati. Karena ia terkait dengan keyakinan dan kesadaran. Kebaikan dzahir, adalah bukti kebaikan bathin. Oleh karena itu, memohon kepada Allah swt agar senantiasa memperbaiki hati kita, agar dimudahkan bertaqarrub kepada Allah swt adalah sebuah keniscayaan. Nas’aullah al-‘afwa.* (Mas’ud Izzul Mujahid


Sumber : Dikutip dari majalah An-Najah, Edisi 89 rubrik Oase Imani.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.